Apa Itu Hierarki Pengendalian Risiko dan Contoh Penerapannya

Hierarki pengendalian risiko adalah urutan lima cara mengendalikan bahaya di tempat kerja, dari yang paling efektif sampai yang paling lemah, yaitu eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administratif, dan alat pelindung diri (APD). Bahaya sebisa mungkin dihilangkan di sumbernya, lalu APD dipakai untuk risiko yang masih tersisa.

Dasar Hukum Hierarki Pengendalian Risiko di Indonesia
Kewajiban mengendalikan bahaya berdasarkan penilaian risiko tertulis di Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PP 50/2012) yang masih berlaku. Lampirannya menyatakan, "Upaya pengendalian bahaya, dilakukan berdasarkan hasil penilaian risiko melalui pengendalian teknis, administratif, dan penggunaan alat pelindung diri."
PP 50/2012 mengelompokkan eliminasi dan substitusi ke dalam pengendalian teknis atau rekayasa, bersama isolasi, ventilasi, higienitas, dan sanitasi. Istilahnya berbeda dengan model lima tingkat dari NIOSH di bagian berikut, tetapi urutan logikanya sama. Kewajiban SMK3 berlaku bagi perusahaan yang mempekerjakan paling sedikit 100 orang atau memiliki tingkat potensi bahaya tinggi. Penerapannya diaudit dengan 64 kriteria tingkat awal, 122 kriteria tingkat transisi, dan 166 kriteria tingkat lanjutan.
Contoh eliminasi juga muncul di Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian (Permenaker 9/2016). Pasal 5 mewajibkan pengusaha memastikan pekerjaan di ketinggian hanya dilakukan jika pekerjaan itu tidak dapat dilakukan di lantai dasar. Penerapannya di proyek bisa Anda baca di artikel aturan scaffolding dan working at height.
Lima Tingkat Hierarki Pengendalian Risiko dan Contohnya
Lembaga keselamatan kerja Amerika Serikat, NIOSH, menyusun hierarki pengendalian dalam lima tingkat dan menilai eliminasi, substitusi, serta rekayasa teknik lebih efektif karena bekerja tanpa banyak bergantung pada tindakan pekerja. Dua tingkat terbawah tetap berguna, tetapi hasilnya sangat ditentukan disiplin orang di lapangan.
Tabel berikut merangkum cara kerja tiap tingkat beserta contohnya dari industri yang berbeda.
| Tingkat | Cara kerja | Contoh di industri |
|---|---|---|
| Eliminasi | Bahaya dihapus dari proses kerja | Lampu gudang dipasang pada rangka yang bisa diturunkan, sehingga penggantian dilakukan dari lantai |
| Substitusi | Sumber bahaya diganti dengan yang lebih aman | Percetakan mengganti tinta berbasis pelarut dengan tinta berbahan nabati |
| Rekayasa teknik | Pekerja dipisahkan dari bahaya | Pagar pengaman dipasang di titik jepit mesin pengemas pabrik makanan |
| Administratif | Cara dan waktu kerja diatur | Izin kerja panas dan rotasi jadwal di area bising kilang |
| Alat pelindung diri | Pelindung dipakai di tubuh pekerja | Respirator dan sarung tangan kimia saat laboran menangani bahan korosif |

Di lapangan, satu bahaya jarang selesai dengan satu tingkat saja. Asap pengelasan di bengkel, misalnya, ditekan dengan ventilasi lokal, izin kerja panas, dan masker las sekaligus. Untuk bahaya mesin, pelajari juga jenis pengaman mesin di pabrik dan dasar hukumnya.
Salah Kaprah Menjadikan APD sebagai Pengendalian Utama
Salah satu salah kaprah di lapangan adalah menganggap urusan K3 selesai setelah semua pekerja memakai APD. Padahal APD ada di tingkat terbawah karena bahayanya tetap ada. Jika helm retak, masker longgar, atau sarung tangan dilepas, tidak ada lapis lain yang menahan cedera.
Data BPJS Ketenagakerjaan mencatat 221.740 klaim Jaminan Kecelakaan Kerja pada 2020, 234.370 klaim pada 2021, dan 297.725 klaim pada 2022. Angka yang terus naik ini alasan kuat untuk memeriksa apakah pengendalian di perusahaan Anda masih bertumpu pada APD dan imbauan.
Dua salah kaprah lain juga sering muncul. Pertama, substitusi dilakukan tanpa menilai risiko baru dari bahan pengganti, padahal NIOSH menyarankan risiko bahan pengganti dibandingkan dulu dengan risiko awal. Kedua, prosedur kerja dibuat rapi di atas kertas tetapi tidak diawasi. Pilih APD tetap sesuai bahayanya, misalnya dengan panduan jenis APD menurut lokasi pekerjaan.
Langkah Menerapkan Hierarki dari Hasil HIRADC
Hierarki pengendalian dipakai setelah bahaya diidentifikasi dan risikonya dinilai, biasanya lewat dokumen HIRADC. Untuk tiap risiko tinggi, tim K3 menguji pilihan dari tingkat teratas lebih dulu, lalu turun ke tingkat berikutnya hanya jika tingkat di atasnya memang tidak bisa diterapkan.
- Urutkan risiko dari skor tertinggi di HIRADC.
- Tulis alasan teknis jika eliminasi dan substitusi tidak mungkin dilakukan.
- Gabungkan beberapa tingkat untuk risiko tinggi.
- Tetapkan penanggung jawab dan tenggat tiap pengendalian.
- Nilai ulang risiko sisa setelah pengendalian berjalan.
Format penilaiannya berbeda antarsektor, seperti dibahas di artikel perbedaan HIRADC tambang dan pabrik dan perbedaan JSA dan HIRADC. PT Garuda Systrain Interindo (Garuda QHSE Institution) menyelenggarakan pelatihan HIRADC serta pelatihan Ahli K3 Umum Kemnaker bagi tim yang menyusun dan mengawasi pengendalian risiko.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah hierarki pengendalian sama dengan HIRADC?
Tidak sama. HIRADC adalah proses mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan menentukan pengendalian. Hierarki pengendalian adalah urutan pilihan yang dipakai pada tahap menentukan pengendalian itu.
Kapan APD boleh menjadi pengendalian utama?
APD menjadi andalan hanya jika tingkat di atasnya tidak dapat diterapkan atau sedang disiapkan, misalnya saat perbaikan darurat. Alasannya perlu dicatat di HIRADC dan ditinjau ulang secara berkala.
Siapa yang menentukan pengendalian risiko di perusahaan?
Tanggung jawabnya ada pada pengusaha atau pengurus perusahaan. Dalam praktik, penyusunannya dikerjakan Ahli K3 bersama penanggung jawab area kerja, lalu dipantau lewat audit internal.
Kredit gambar. Foto oleh Hoang NC dari Pexels.
